• Sab. Des 10th, 2022
Share
263 views

Oleh : P. Simbolon

Kota Pematang Siantar, merupakan kota kedua terbesar di Sumatera Utara, setelah kota Medan, dan juga kota Pematang Siantar salah satu obyek wisata.

Pematang Siantar terletak 128 Km, kearah selatan dari kota Medan.

Sepanjang perjalanan Medan – Pematang Siantar, banyak terdapat perkebunan karet, coklat dan kelapa sawit.

Selain itu, di Pematang Purba terdapat pula, peninggalan – peninggalan budaya asli seperti rumah adat Simalungun yang sudah berusia ratusan tahun, didalam kota terletak pula museum Simalungun.

Dari uraian tersebut diatas, sangat menarik jika dikaitkan dengan Pilkada kota Pematang Siantar, yang diikuti Paslon tunggal, yakni, Ir.Asner Silalahi sebagai calon Walikota dan dr. Susanti Dewayani sebagai calon wakil Wali Kota.

Pengamatan penulis dalam Pilkada kali ini, bisa membuat semua orang tersentak jika pundi pundi suara kotak kosong mengalir deras.

Lantas pertanyaannya, bagaimana jika nantinya suara calon tunggal kalah dibanding kotak kosong, berdasarkan hasil perhitungan KPU ?.

UU Nomor 10 tahun 2016, tentang Pilkada juga mengatur bagaimana jika Pilkada hanya diikuti calon tunggal.

Dalam pasal 22 menjelaskan kotak kosong menang jika calon tunggal tidak mampu mendapatkan suara lebih dari 50 persen suara sah.

Masih ada pertanyaan lainnya, lalu siapa yang akan mengisi kursi pemerintah tersebut, jika kotak kosong yang menang ?

Itulah diantaranya pertanyaan warga masyarakat, yang dihimpun penulis saat berada di Kota Pematang Siantar pekan lalu.

Debat publik Pilkada Kota Pematang Siantar yang diiukti oleh Paslon tunggal, sangat menarik perhatian publik.

Dimana dalam debat publik yang diselenggarakan secara langsung melalui siaran televisi, Rabu, 02 Desember 2020, pekan lalu, Paslon tunggal menjanjikan akan membenahi Kota Pematang Siantar dan salah satu program unggulan yang di canangkan adalah bidang pariwisata.

Dalam hal ini, Ir. Asner Silalahi dan dr. Susanti Dewayani, merupakan Paslon Tunggal dalam Pilkada Kota Pematang Siantar, pada 9 Desember 2020, yang tinggal hitungan hari.

Debat publik tersebut, dikemas dengan penyampaian visi dan misi, oleh Paslon dan penajaman visi dan misi oleh 5 orang panelis.

Menurut Paslon tunggal, Asner, salah satu program pembangunan pariwisata di Pematang Siantar adalah untuk mengantisipasi kehawatiran, Kota Pematang Siantar menjadi kota mati.

Kehawatiran ini dikaitkan dengan adanya program pemerintah yang akan membangun jalan tol Kwala Tanjung – Tebing Tinggi – Rantau Perapat – Danau Toba.

Dengan adanya program pembangunan jalan tol oleh pemerintah, dan jika jalan tersebut siap dibangun, maka menghawatirkan, dan kemungkinan Kota Pematang Siantar bisa menjadi kota mati yang tidak dilintasi lagi, kata Asner.

Untuk mengantisipasi kehawatiran tersebut, pasangan calon tunggal, mencanangkan mengembangkan obyek wisata yang sudah ada, dengan membangun beberapa tempat tujuan wisatawan berbasis budaya di kota Pematang Siantar.

Selain membenahi kota Pematang Siantar menjadi tujuan wisata budaya, pihaknya juga akan menggandeng 13 etnis yang ada di kota Pematang Siantar.

Lebih lanjut Asner mengatakan, akan dibuat seperti kampung wisata budaya, dengan menampilkan rumah- rumah adat 13 etnis.

Dengan demikian, program pariwisata ini akan dapat mengembalikan Kota Pematang Siantar menjadi kota tujuan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.