• Ming. Okt 2nd, 2022

HUMANIZING OF HUMAN BEING Oleh : Drs.H.Hasan Maksum Nasution,SH,S.Pd.I,M.A ( Dewan Redaksi Transnusantara.co.id )

Share

Medan, Transnusantara.co.id —

Firman Allah Surat At Taubah ( 9 ), 122 ” Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya ke Medan perang.Mengapa tidak pergi dari tiap tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya , supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Selama ini orang tertarik untuk mengkaji pribadi Rasulallah SAW diantaranya, selain karena beliau adalah ” Mahaguru ” dialam ini, sebagai seorang utusan, beliau adalah pusat keberkahan spiritual Islam dan mencintai beliau adalah syarat mutlak dan jaminan seseorang untuk memperoleh keridhaan dan syurga Allah SWT. Karena itu dalam setiap kegiatan kita akan mendapat suatu penghormatan dan pemuliaan kepada beliau, baik dalam bentuk shalawat maupun pujian pujian, semisal pembacaan Maulid Nabi SAW dari semua bentuk kegiatan ini yang harus kita amati adalah sisi ” penghormatan ” itu sendiri sebagai hal yang ” maklum ” dan usaha memperkuat tali hubungan antara Rasulallah SAW sebagai seorang ” Mahaguru ” dan kita umatnya sebagai murid beliau.

HUMANIZING OF HUMAN BEING
Berbicara mengenai masalah pendidikan, kita tidak dapat menghindarkan dari memperbincangkan tentang manusia, karena manusia merupakan subyek dan obyek pendidikan, bahkan menurut Samsul Nizar, pendidikan tidak akan punya arti bila manusia tidak ada didalamnya.

Aktifitas pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses ” Humanizing Of Human Being ” proses memanusiakan manusia, karena itu agaknya tidak berlebihan ucapan seorang pendidik bahwa manusia tidak akan menjadi manusia semestinya, apabila tidak berpendidikan.Karena itulah mengapa Islam menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu mulai dari ayunan atau sejak lahir ( min Al mahd ) hingga keliang lahat atau mati ( ila Al lahd ) , sebab menuntut ilmu dan berpendidikan adalah salah satu ciri manusia sebagai mahluk cerdas yang membedakannya dari mahluk Allah Lainnya.

Untuk melakukan upaya memanusiakan manusia, terlebih dahulu kita pahami tentang eksistensi manusia.Jauh jauh para ahli telah membahas tentang sosok manusia, misalnya phytagoras yang hidup antara tahun 500 – 580 M, yang mengatakan bahwa, manusia itu asalnya dari Tuhan , jiwa itu adalah penjelmaan dari Tuhan yang jatuh ke dunia, karena berdosa dan dia akan kembali lagi ke langit kedalam lingkungan Tuhan bermula, apabila sudah habis dicuci dosanya itu.

Inilah yang dikatakan dalam Alqur’an bahwa Allah akan mengangkat kedudukan suatu masyarakat dalam kehidupan dunia hanya dengan ilmu pengetahuan , maksudnya jika masyarakat menghargai ” Guru ” dan” Ulama ” maka masyarakat tersebut akan menjadi masyarakat mulia.Sebaliknya jika suatu masyarakat tidak menghargai guru , ulama dan akademik dan segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu, maka masyarakat tersebut akan menjadi hina.

Allah akan mengangkat orang yang beriman dan yang memiliki ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat ( QS. Al Mujadilah 11 ). Mari kita lihat masyarakat kita pada hari ini ( maksudnya keadaannya ) dan masyarakat muslim di semua negara Islam.Apakah kedudukan ” ulama dan ilmu ” sudah memiliki kedudukan terhormat ???. Bagaimana penghargaan pemerintah kepada guru, ulama, akademisi, saint, apakah lebih tinggi dengan penghargaan yang mereka berikan dibandingkan kepada para penyanyi, olahragawan, bintang film dan lain sebagainya.

DEFINISI GURU
Menurut definisi- definisi yang telah diutarakan oleh para ahli, secara etimologi istilah ” Guru ” berasal dari bahasa India yang berarti orang yang mengajarkan kelepasan dari sengsara, menurut Helen Graham, guru adalah istilah ” Hindi ” yang secara harfiah berarti ” dari kegelapan menuju cahaya ” , menurut Poerwadarminta,guru adalah orang yang kerjanya mengajar, sementara Zakiyah Daradjat menyatakan, bahwa guru adalah pendidik propesional, karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak.

Dalam bahasa sansekerta, guru berarti seorang yang dihormati, figure yang tidak memiliki cela dan tidak boleh memiliki kesalahan .Guru bukan hanya sekedar sebagai pendidik dan pengajar, melainkan juga mengemban misi seorang begawan ,selain bijaksana juga menguasai ilmu pengetahuan dan mengemban nilai – nilai moral dan agama. Guru menyandang status yang memiliki peran yang amat mulia, yakni sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengayom dan juga sebagai orang tua yang kedua setelah ayah dan bundanya.

Sejak dahulu, guru dianggap sosok ideal dan panutan di masyarakat, meskipun pada perkembangannya anggapan tersebut mulai pudar. Sejarah mencatat Ki Hajar Dewantara atau Soewardi Soeryadinata sebagai bapak pendidikan Nasional karena jasanya membangun Pendidikan di Indonesia dan dengan ajaran yang terkenal adalah ” Ing ngarsa sung tuladha ” di depan memberi teladan ” Ing madya Mangun karsa ” , ditengah menciptakan peluang untuk berprakarsa, dan ” Tut Wuri Handayani ” dibelakang memberi dorongan ( motivasi ). Ajaran tersebut menjadi falsafah bagi pendidikan di Indonesia. Guru sering dianggap akronim dari ” digugu dan ditiru ” . Digugu berkaitan dengan para guru sebagai pengajar dan ditiru berkaitan dengan peran guru sebagai pendidik.

Dalam perspektif islam, kehadiran figur guru tidak bisa terlepas dari adanya ajaran Islam yang menuntut bahkan mewajibkan manusia untuk menuntut ilmu, dsamping menekan aspek religious kepada umatnya, Islam menuntut umatnya untuk belajar dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Dengan kata lain, Islam mewajibkan umatnya untuk belajar dan mengajar, karenanya itu adalah sifat manusiawi, yakni sesuai dengan hakikat kemanusiaannya ( fitrah manusia ) sebagai ” home educandus ” dalam arti manusia itu sebagai makhluk yang dapat dididik dan dapat mendidik.

Firman Allah SWT : ” Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika tidak kamu kerjakan ( apa yang diperintahkan itu ) berarti kamu tidak menyampaikan amanatnya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang – orang yang kafir ( QS.Almaidah (5) 67 ), dan selanjutnya firman Allah ” seluruh manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.Sesungguhnya ” Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalannya dan Dialah yang lebih mengetahui orang – orang yang mendapat petunjuk.
Akhirnya, mari kita ” MULIAKAN GURU / DOSEN, AKADEMISI,
ULAMA, ” karena perlu ” digugu dan ditiru ” aamiin yaa robbal aalamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.