PULAU SALAH NAMA BIDADARI SELAT MALAKA

Pariwisata340 views

 

Penulis,Nopel Harahap

Kabiro Batu Bara.

 

TransNusantara.co.id-

Batu Bara,

Awal mula di sebut pulau salah namo (bahasa Melayu) menurut para tetua tetua adat budaya kita Tanjung Tiram bentuk pulau kecil yang  berada diselat Malaka itu mirip dengan bentuk (maaf) organ intim wanita.Ketika orang dari luar datang melihat pulau tersebut dan bertanya maka dengan santun penduduk setempat mengatakan pulau salah namo atau pulau “salah nama”.

Pulau yang luas totalnya 13 Ha itu dengan  panjang, 500 m2 lebar, 250 M2, adalah masuk dalam wilayah Pemkab Batu Bara Sumut,jarak tempuh menuju pulau itu dari simpang sei bejangkar ke pelabuhan Tanjung tiram sekitar  13,5 km,dari pelabuhan Tanjung tiram ke pulau itu jaraknya 13 mil (ukuran jarak laut).Waktu tempuhnya lebih kurang 2 jam menaiki perahu motor yang selalu stand by diseputaran pelabuhan.

 

 

Pulau yang memiliki berbagai pesona itu memang sangat menyejukkan hati dan pikiran, sangat tepat untuk berlibur bersama keluarga. Keindahan alam bawah laut dengan aneka hewan dan tumbuhannya,membuat kita kagum.

Berapa besar nikmat dan ciptaan Allah SWT suasana jelang terbenamnya sang matahari (sunset) menambah rasa betah berlama lama menikmati alam pulau yang di tata dibangun fasilitas fasilitasnya,seperti penginapan,musolah, toilet /WC,tangga cor beton menuju bukit diatas pulau, tempat duduk-duduk, dan meja santai, pondok lesehan, tempat atau Batu yang ditata rapi,untuk yang hobi memancing, fasilitas itu dibangun dimasa Bupati Batu Bara H.OK.Arya.

Saat malam hari, kita bisa melihat gemerlap lampu lampu perahu para Nelayan mencari ikan dan ketika naik diatas bukit terlihat jelas pemandangan luas sejauh mata kita  memandang, sungguh tidak bisa terlukiskan dengan kata kata.

Pulau salah Nama adalah salah satu objek wisata yang ada di kabupaten Batu Bara, Sumut,yang harus terus dilestarikan dengan keindahan yang alami yang dimilikinya tentu mendatangkan pendapatan asli daerah (PAD) serta menyerap tenaga kerja lokal penduduk setempat.(*).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *