Foto : Istana Niat Lima Laras, dibangun tahun 1907 silam oleh Datuk Madyuda Sri Raja atau Raja Ke- XII Kedatukan Lima Laras, di desa Lima Laras Kec. Tanjung Tiram, Kab.Batu Bara Sumut,
Penulis : Nopel Harahap, Kabiro Batu Bara
TransNusantara.co.id, Batu Bara –Tercetus satu niat yang tulus untuk membangun satu istana sebagai pusat pemerintahan, saat itu Datuk Madyuda Sri raja atau Raja ke XII Kedatukan Lima laras berniat apalagi dagangannya laris manis,hasinya akan digunakan untuk membangun istana bernama Istana Niat Lima laras.
Niat tersebut diridhoi Allah SWT, seluruh dagangannya berupa hasil bumi seperti kayu,rotan, damar dan kopra yang dijual ke negara- negara Asean seperti ke Malaysia,Singapore, Thailand,dan Brunai Darusalam,laku semua terjual,walaupun ada larangan dari pemerintah Belanda saat itu untuk memblokade perdagangan pribumi berdagang keluar negeri, sang Raja tidak takut, dan tetap berlayar berdagang.
Hasil dagangannya itu sesuai nazar (niatnya) dibangunlah istana niat lima Laras tersebut berlantai 3, memiliki 66 pasang jendela, 28 pintu,4 anjungan arah ke arah mata angin,anak tangga melingkar sebanyak 27 anak tangga, luas Istana yang dibangun diatas tanah seluas 102 X 92 meter.Seluruh bangunan terdiri dari kayu pilihan berciri khas Melayu dengan arsitek dan tenaga kerja didatangkan dari negeri Cina dan pulau Penang Malaysia berjumlah total 80 orang.

Istana tersebut dibangun sejak tahun 1907 selesai pada tahun 1912 (5 tahun). Bangunan Istana Lima laras bergaya perpaduan, Eropa cina dan Melayu,Natuda bertahta dari tahun 1883 – 1919
Sang raja yang membangun Istana Kebanggaannya masyarakat Melayu Batu Bara itu, berani menantang Belanda tidak pernah takut,komitmen, tegas bersikap dan tidak pernah mau tunduk kepada kolonial Belanda. Sikap tegasnya itulah yang sangat dikagumi kerajaan- kerajaan lain saat itu.
Sang Raja juga termasuk sebagai, Veteran pejuang kemerdekaan RI yang turut Andil besar berkontribusi tenaga, fikiran, dan dana, mengantarkan bangsa ini kepintu gerbang kemerdekaan.
Pembangunan Istana Lima Laras menelan anggaran biaya sebesar 150.000 gulden, mata uang Belanda, saat itu dihitung berdasarkan Kurs rupiah sebesar 1,5 Milyar rupiah.
Pembangunan istana selesai pada tahun 1912 dan usia istana saat ini sudah berusia sekitar 111 tahun.Pemerintah telah melakukan perbaikan -perbaikan (renovasi) bangunan Istana,sebagai wujud kepedulian dan perhatian pemerintah,dengan tetap tidak mengubah bentuk asli bangunan istana.
Istana Lima laras yang berlokasi di desa Lima laras, kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara.Sumatera utara tersebut, masih tampak kokoh dan megah, dan didepan istana terdapat dua meriam besar peninggalan sejarah.
Matyudha wafat tahun 1919 berakhir pula masa kejayaan Kedatukan Lima Laras.
Istana niat Lima Laras adalah kejayaan kerajaan Melayu yang pernah ada di bumi Nusantara khususnya di Batu Bara kabupaten pemekaran dari Kabupaten induk Asahan, Provinsi Sumatera utara.
Niat tulus Sang raja dibalik pembangunan Istana adalah bukti betapa pedulinya sosok Pemimpin yang sampai Akhir hayatnya tidak pernah mau tunduk kepada penjajah Belanda.(*).
