Penulis :
Nopel Harahap
Kabiro, Batu Bara
Batu Bara.
Transnusantara.co.id-
Salah satu icon Propinsi jawa barat tanah Sunda atau pasundan, adalah
tangkuban parahu, gunung yang mirip perahu telungkup itu merupakan sejarah anak bangsa yang berawal dari
kisah sedih, dan haru cinta terlarang antara anak dan ibu kandung yang berahir penuh kesedihan, pilu dan air mata.

Adalah Sangkuriang
seorang anak yang lahir di besarkan, di sebuah desa di seputaran perbukitan di tanah sunda Jawa Barat.
Layaknya anak anak, Sangkuriang hidup bersama ibunya yang bernama Dayang Sumbi,
dan seekor anjing kesayangan ibunya bernama si Tumang berjenis kelamin laki laki yang konon adalah ayah dari Sangkuriang.

Saat dayang Sumbi menenun tiba tiba alat tenunnya terjatuh dayang Sumbi berjanji bersumpah, kalau yang menemukan perempuan, akan di jadikan saudara nya, dan apabila yang menemukan laki laki,
akan di jadikan suaminya,
ternyata alat tenun nya di temukan seekor anjing jantan titisan dewa, anjing tersebut awalnya manusia yang di sumpah oleh dewa menjadi anjing.
Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang anak
laki laki bernama Sangkuriang.
Ketika remaja, Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang rajin dan patuh kepada orang tuanya, dan hoby berburu
di hutan hutan.
Pada suatu hari saat berburu ke hutan,
bersama si Tumang, Sangkuriang tidak menemukan buruan apapun, ahirnya di panahlah si Tumang sampai mati, daging dan hatinya di bawa pulang, untuk dimasak oleh ibunya.
Sebelum dimasak, ibunya bertanya daging dan hati hewan apa ini nak, di jawab Sangkuriang
daging dan hati rusa Bu di jawab Sangkuriang. Saat makan bersama, ibunya bertanya kemana si tumang, Sangkuriang di tanya oleh ibunya, dengan wajah pucat pasi dan gemetar Sangkuriang tak bisa menjawab setelah berulang kali di tanya, Sangkuriang saya bunuh Bu.
Si ibu murka besar, dan memukul kepala Sangkuriang dengan Sutil alat memasak, kepala Sangkuriang bocor berdarah dan di usir oleh ibunya.
Waktu terus berjalan, setelah puluhan tahun mengembara, Sangkuriang kembali ke kampung halamannya, dan betapa terkejutnya Sangkuriang di kampung nya itu ada wanita cantik jelita dan ramah, dengan rasa heran dan bingung, Sangkuriang bertanya tanya kepada orang orang kampungnya, siapa wanita itu.
Selanjutnya Sangkuriang berkenalan dan diterima oleh wanita itu, singkat cerita mereka pun saling dekat layaknya orang pacaran,saat tidur di pangkuan dayang sumbi, terlihatlah bekas luka di kepala Sangkuriang yang pernah di pukul dayang Sumbi dengan Sutil, seketika itu dada dayang Sumbi berdegub kencang dan keringat dingin, dalam hatinya, ini tidak boleh terjadi karena yang mencintai dirinya
adalah anak kandungnya sendiri.
Ketika Sangkuriang mengajak dayang Sumbi menikah Dayang Sumbi meminta syarat buatkan perahu dalam waktu satu malam dan bendunglah sungai Citarum dalam waktu satu malam Sangkuriang menyetujuinya karena Sangkuriang sakti mandraguna maka di kumpulkannya para jin jin untuk mengerjakan permintaan dayang Sumbi tersebut.
Sebelum Kokok ayam subuh pekerjaan hampir selesai, dayang Sumbi mulai bingung, resah dan gelisah, di bangunkan nyalah para tetangga untuk melalukan kegiatan seolah olah terkesan subuh sudah hampir tiba, cara ini harus dilakukan agar keinginan Sangkuriang ingin menikahi dirinya harus gagal dan benar saja para jin jin pekerja proyek itu mengundurkan diri dan lari karena subuh sudah tiba.
Sangkuriang murka besar, perahu yang hampir selesai di buat itu di tendangnya sampai berkilometer dan jatuh di atas gunung dalam posisi terbalik / telungkup maka gunung itu di namai Gunung Tangkuban Parahu dari bahasa Sunda sampai saat ini menjadi objek wisata Jawa barat.
Dikutip : dari berbagai sumber.

