Tokoh Pergerakan dan Pemerhati HKBP Fredi Marbun, Minta Eporus HKBP Hentikan Narasi Kebencian di Tengah Musibah Tapanuli

Opini23 views

 

Jakarta – Transnusantara.co.id –
Tokoh Pergerakan dan Pemerhati HKBP serta Pegiat HAM & Aktivis Anti Intoleransi Fredi Marbun, mengkeritik keras surat edaran tertanggal 2 Desember 2025, perihal ” Seruan moral menolak bantuan dari pihak perusak lingkungan” yang ditandatangani Ephorus HKBP, Pdt.Dr.Victor Tinambunan.

Fredi Marbun menyatakan “Ini Bukan Seruan Moral, Ini Seruan Kebencian”

Menurutnya, seruan yang diterbitkan Ephorus HKBP tersebut tidak tepat waktu dan berpotensi menimbulkan permusuhan di tengah situasi krisis.

” Disaat masyarakat Tapanuli masih menangis, kehilangan keluarga, harta, dan rumah justru pemimpin tertinggi HKBP sibuk menyebarkan narasi bernada provokatif, ini bukan seruan moral, Ini seruan kebencian ditengah musibah,” ujarnya.

Ia menilai bahwa surat itu melampaui batas kewenangan karena mencampuradukkan tragedi kemanusiaan dengan penilaian sepihak yang dapat menghambat upaya bantuan bagi masyarakat terdampak.

Mengorbankan Jemaat untuk Kepentingan Kelompok

Fredi juga menyoroti risiko nyata bagi jemaat yang tengah sangat membutuhkan bantuan.

” Pemimpin gereja seharusnya berada di barisan terdepan menolong korban, bukan membawa musibah ke dalam kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Apapun latar belakangnya Menolak bantuan sambil menyebarkan stigma justru mencederai nilai-nilai kristiani, “tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa di antara korban bencana terdapat banyak jemaat HKBP sehingga seharusnya gereja mengutamakan misi kemanusiaan di atas segala pertimbangan lainnya.

Seruan agar HKBP Menjunjung Transparansi dan Kemanusiaan

Dalam kritiknya, Fredi juga mempertanyakan tata kelola lembaga yang menurutnya perlu diperbaiki untuk menjaga kepercayaan jemaat.

Ia menyampaikan bahwa sebelum mengeluarkan seruan moral yang berpotensi menimbulkan kontroversi, pimpinan gereja seyogianya memastikan transparansi dan keteladanan dalam kepemimpinan.

” Sebelum berbicara atas nama Tuhan, belajarlah terlebih dahulu menghormati kemanusiaan dan menjaga kepercayaan jemaat, “ujarnya.

Fredi Marbun, menyerukan agar pimpinan HKBP mengembalikan fokus gereja pada pelayanan, solidaritas, dan cinta kasih.

Jemaat membutuhkan pemimpin yang membawa penghiburan dan pertolongan, bukan konflik.

Di mana pun ada penderitaan, di situlah gereja seharusnya hadir – bukan dengan propaganda, tetapi dengan kasih.

Surat tersebut menegaskan larangan menerima bantuan dari beberapa pihak yang dinilai sebagai perusak lingkungan.

Namun, sebagian kalangan menilai isi dan narasinya tidak hanya menyudutkan pihak tertentu, tetapi juga berpotensi memecah belah jemaat pada saat masyarakat Tapanuli justru membutuhkan solidaritas dan pertolongan seluas luasnya.

Hingga  berita ini dipublikasikan, pihak Ephorus HKBP masih belum merespon permintaan konfirmasi.

(A/H LG).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *