Pelantikan Pejabat eselon II & III Pemprovsu mengundang kecemburuan sosial

Opini257 views

 

 

Medan, TransNusantara.co.id

Gubernur Sumatera Utara Edy Ramayadi melantik puluhan  pejabat eselon II dan ratusan eselon III untuk mengisi jabatan di lingkungan pemprovsu Selasa (21)02) diaula Tengku Rizal Nurdin  jalan Sudirman Medan mengundang kecemburuan sosial.

Koordinator Lembaga Peduli Masyarakat Pakpak ( LPMP ), Rabu 22 Februari 2023.kepada  awak media mengatakan,  pengangkatan pejabat  eselon II dan III tersebut dinilai tidak mengadopsi keterwakilan etnis sebagai  pemangku adat dan budaya di sumatera Utara., hal ini sangat kita sesalkan.

”  Walaupun kebijakan itu tidak ada diatur dalam suatu peraturan atau undang undang  seharusnya Edy Ramayadi selaku GUBSU mengadopsi keterwakilan suku dalam mengangkat pejabat eselon II dan III dalam membangun provinsi Sumatera Utara.” Ujar Kadirun.

Menurutnya, provinsi Sumut ini tidak terlepas dari daerah tanah Ulayat dan etnis, seperti suku Toba dari Taput sekitarnya,suku Karo ditanah Karo,suku mendailing dan Angkola di Tabagsel,suku Melayu di tanah Deli sekitarnya,dan suku Pakpak di Dairi dan Pakpak Bharat dan suku lainnya.

”  Suku Pakpak mempunyai dua kabupaten tanah Ulayat yaitu Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat dan juga bernaung diwilayah   pemerintahan Gubernur sumatera Utara sehingga putra putri Pakpak merasa ingin diikutsertakan dalam membangun propinsi Sumut,tentu caranya diberikan porsi jabatan untuk bisa berkarya sebagai perwakilan etnis,sebagai salah satu pemegang hak Ulayat di sumatera utara  .”sebut Padang Margana.

Dulunya sebelum pemerintahan Edy Ramayadi sebagai Gubernur Sumatera Utara kebiasaan keterwakilan sudah dirintis serta dilakukan oleh Gubernur pendahulunya,seperti jaman pemerintahan Raja Inal Siregar,T Rizal Nurdin,Rudolf Pardede,dan Gatot PN dan Erry Nuradi.”minimal satu orang perwakilan etnis suku Sumut yaitu satu orang eselon II dan beberapa orang eselon III ada di pemprovsu yaitu mewakili suku contohnya etnis pakpak”ucap salah satu Pungsionaris DPP FORMADANA ini.

Pada saat itu jugalah digairahkan kegiatan  FORKOLA (Forum komunikasi lintas adat) Sumatera Utara yaitu di isi kumpulan perwakilan para tokoh adat di Sumut.”tambah, Ketua DPP LSM SIMPARAS ini.

Namun setelah kami amati selama pemerintahan Sumatera  dipimpin oleh Edy Ramayadi sebagai  Gubernurnya,hal yang sudah dirintis dan dilakukan oleh Gubernur pendahulunya  diabaikan dan nampaknya tak berlaku lagi sehingga apa yang disebut denga jargon SUMUT BERMARTABAT  hanya sebatas tulisan,sebab terbukti sejumlah pelantikan yang dilakukan masa pemerintahan Edy Ramayadi kurang mengadopsi keterwakilan etnis yang ada di Sumut terutama suku Pakpak”ungkap Kadirun Padang.

Untuk itu,selaku seorang suku pakpak saya menilai Gubernur Sumut Edy Ramayadi kurang mencintai atau menganggap tidak adalagi  suku Pakpak sehingga selama kepemimpinannya tidak pernah putra putri etnis Pakpak  diberi kesempatan berkarya sebagai jabatan eselon II di pemprovsu untuk berkarya membangun  Sumut.”tegas Kordinator Lembaga Peduli Masyarakat Pakpak, ini.

Pedahal beberapa orang ASN Pemprovsu putra putri Pakpak berulangkali mencoba mengikuti lelang jabatan di lingkungan Pemprovsu,namun semua kandas dan tak terpilih untuk dilantik oleh Gubsu menjadi salah satu menduduki jabatan eselon II

“apakah karena orang Pakpak itu miskin atau karena  tidak punya duit atau karena tak mampu SDMnya.Kalau masalah SDM saya kira bisa mengimbangi atau setidaknya mengikuti sahabat kita suku lain “, ujar Padang,sambil bertanya.

Seharusnya jargon Sumut BERMARTABAT itu harus betul betul semua bermartabat,dan salah satu adalah melibatkan seluruh suku untuk berkarya membangun propinsi Sumut ini agar tak ada kecemburuan.”sebut Kadirun Padang.

” tapi kalau begini caranya dan kondisi kebijakan pemprovsu mengangkat pejabat mengisi jabatan,rasanya Sumut kurang Bermartabat lah.” dan wajar saya beserta orang Pakpak lainnya kurang  simpati pada Gubernur Sumut Priode sekarang ini.”pedahal kami beserta kawan kawan memilih Pak Edy Ramayadi pada PILGUBSU yang lalu dan berharap ada kebijakan yang agak lebih baik pada saat sekarang.

( Red ).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *