Transnusantara.co.id,
Syahkuda, Simalungun-
Parit gendong yang dikerjakan oleh PT Alam Patar pada tahun 2021, di Nagori Sahkuda Kabupaten Simalungun, sudah selesai, dimana saat ini masih menjalani masa perawatan oleh pemborong untuk memperbaiki adanya kerusakan-kerusakan, selama 6 bulan.
Informasi yang dihimpun Transnusantara co.id dari berbagai sumber, Kamis ( 13/5/2022 ) tujuan dibangunnya parit gendong tersebut adalah untuk mengairi ladang persawahan warga dan kebutuhan lainnya di sejumlah Nagori,dan untuk budidaya perikanan,dll.

Parit gendong yang dibangun sepanjang 2 Km lebih, oleh PT Alam Patar, menghabiskan anggaran pemerintah pusat sekitar 26 M, namun belum dapat difungsikan.

Pantauan Trans Nusantara, saat ini sudah tidak ada lagi yang bekerja di proyek parit gendong tersebut.
Sedangkan masa pemeliharaan proyek berdasarkan kontrak tinggal beberapa hari lagi, namun masih banyak pekerjaan proyek yang seharusnya diselesaikan pada masa pemeliharaan itu.

Pekerjaan parit gendong yang perlu diperbaiki segera adalah tembok parit dibeberapa titik yang jebol ( dapat dilihat foto ) yang diambil awak media ini saat memantau proyek parit gendong dilokasi, kemarin.
Jebolnya tembok parit gendong tersebut diduga pengerjaan proyek ini tidak sesuai dengan kontrak & bestek, dan lemahnya pengawasan dari instansi terkait terhadap proyek tersebut.

Berkaitan dengan hal itu, sesuai dengan informasi yang dihimpun TN dari sejumlah warga masyarakat yang memiliki ladang sawah di sekitar parit gendong, bahwa pihak rekanan pelaku proyek akan melakukan perbaikan-perbaikan sejumlah tembok parit yang jebol dan tembok parit yang retak, dll kerusakan.
Dengan adanya rencana itu, pihak warga masyarakat merasa resah karena jika dilakukan perbaikan, secara teknis pihak pemborong harus mengeringkan parit dengan membendung parit dibagian hulu.
Sementara itu, pihak petani yang berada dihilir saat ini sedang menanam ikan yang membutuhkan air.
Jika parit dibendung maka air tidak mengalir kehilir dikhawatirkan ladang warga mengalami kekeringan dan ikan yang dipelihara / ditanam warga akan mati, dan menimbulkan kerugian besar terhadap warga.
Warga meminta kepada instansi terkait agar dapat segera memperhatikan hal ini, dengan memberikan saran kepada pihak pemborong, jika memang akan dilakukan perbaikan dan membendung parit. Ada baiknya dimusyawarahkan terlebih dulu dengan warga untuk mencari solusi agar ikan yang dipelihara/ ditanam oleh sejumlah warga tidak mati dan ladang persawahan dibagian hilir tidak mengalami kekeringan.
Trans Nusantara sudah berusaha untuk melakukan konfirmasi kepada pihak pemborong terkait hal ini, namun hingga diterbitkan berita ini pihak pemborong belum bisa dijumpai.
( TN/Sukses Sihombing ).
.
