Merefleksikan Diri sebagai Putra Daerah

Opini108 views

 

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil *

Medan, Transnusantara.co.id–Refleksi atau sebagaimana frasa yang digunakan sebagai bagian judul dengan merefleksikan diri akan lebih tepat dengan mempertegas terhadap diri sendiri sebagai putra daerah. Agar tidak semata menghasilkan refleksi berupa orang lain atau selain dirinya, sikap aktif terhadap refleksi menjadi penting untuk memberikan hasil yang baik serupa manfaat terhadap masyarakat, bangsa dan negara.

Baru-baru ini sebuah desas-desus tentang aktualisasi secara lebih luas sekaligus spesifik oleh para pesohor sekelas selebriti ke panggung politik. Dikatakan baru-baru ini bukan berarti suatu fakta baru, lantaran tokoh yang disodorkan adalah identik dengan tingkah menghibur ala artis sejati akan menduduki jabatan sekelas kepala daerah atau bupati.

Nama-nama Soimah sebagai calon bupati Bantul meski sudah diklarifikasi bahwa saat ini sekedar hoaks. Muncul pula nama Rafi Ahmad yang disebut akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Tengah. Tidak sekedar gimik politik, respon terhadap kabar-kabar tersebut menjadi sepatutnya lantaran panggung politik tidak semata menuntut kerelaan termasuk berbagai aksi oleh pelakon atau si para calon.

Sebenarnya nama-nama lain dengan daerah relatif sama sudah lebih dulu terjun ke panggung politik dengan awal karir meski sempat diragukan lantaran berlatar sebagai artis, sebut nama kembali seperti Emil Dardak, Pasha Ungu dan lainnya namun kenyataannya keartisan nyata mampu mengalahkan mereka yang sebenarnya punya kontribusi di daerah masing-masing namun tidak sesohor para selebriti tersebut.

Siapa saja mereka?

Dikatakan putera daerah, lantaran tidak sedikit anak-anak dan muda-mudi dari daerah-daerah bahkan pedalaman rela menjalani proses panjang sebagai orang yang dapat bermanfaat untuk masyarakatnya bahkan harus menempuh berbagai tantangan baik jarak, waktu maupun secara ekonomi agar dapat bermanfaat. Menempuh jalur pendidikan, pekerjaan, atau lainnya untuk dapat berperan aktif bahkan berjuang keras namun tidak jarang tetap terkalahkan begitu saja.

Tidak sedikit pula dari mereka, putera puteri daerah yang diutus untuk menuntut ilmu di berbagai kota besar di Indonesia bahkan sampai keluar negeri yang berakhir pada kematian. Belum lama ini, ada mahasiswa di Sleman, DIY asal Palembang yang tewas dalam latihan fisik bela diri, sebelumnya ada kasus pembunuhan mahasiswa di Bantul, DIY juga asal Provinsi Bangka Belitung serta masih banyak lagi yang lainnya.

Ya, sebenarnya dari mereka yang menempuh jalur seperti pendidikan untuk sebut kembali istilah di atas yaitu aktualisasi dalam berkontribusi sebagai putera daerah.

Nama beken seperti Helmy Yahya, bahkan sampai dua kali mencalonkan diri sebagai gubernur daerah asalnya, namun gagal total! Kedua kali usaha sebagai putera daerah tersebut tidak menjadikannya lantas sukses dalam pencalonan sebagai kepala daerah lantaran telah berpendidikan, dan tersohor.

Jika daerah-daerah di Jawa telah berhasil menghadirkan sosok yang ketersohoran dapat mengalahkan jenjang karir seperti di politik yang dirintis, seperti artis, selebritis ternama, di daerah luar termasuk di pedalaman di mana masyarakatnya masih kental dengan ikatan-ikatan primordial masih belum berlaku.

Sistem Maka merefleksi diri dalam konteks khususnya kontribusi dan membawa manfaat selaku peranannya sebagai putera daerah adalah cukup penting.

Pertarungan wacana atau diskursus akhirnya tidak semata wacana di ranah akademik misalnya, atau di sela-sela waktu kerja.

Usaha sedari kecil semisal sekolah yang rajin, belajar yang tertib serta berbagai usaha sebagai bentuk dari harapan-harapan besar tidak sekedar angan-angan kosong dan musnah semata dihadapkan dengan persaingan sekedar keterkenalan. Hasil akhir dan proses dalam berkontribusi adalah dua unsur yang, tidak hanya berdialektika satu sama lain namun sekaligus kontribusi dalam kehidupan, termasuk di masyarakat sebagai putera daerah.

Terakhir, tidak bermaksud menggurui namun potret di atas dapat diindahkan mengingat usaha serius ke arah kontribusi tersebut senantiasa terbina sedemikian rupa, ditantang atau diuji dalam bentuk lingkungan akademik secara umum adalah bagian dari pembangkit semangat atau setiap langkah yang tidak sekedar menuntut tanggungjawab materil, moril dan juga mental dalam kontestasi dunia sesungguhnya.

Sudah saatnya putera daerah merefleksikan diri dalam peranannya dan berkontribusi di masyarakat secara nyata!

*Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera

( Red/Transnusantara.co.id )

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *