Deli Serdang, Transnusantara.co.id – Kapolsek Birubiru menggelar dialog Radio di RRI Medan, Rabu ( 13/5/2026 ), dengan tema ” Peran Polsek Birubiru dalam menekan Tindak Pidana 3C, Balap Liar, Geng Motor, dan Tauran di Wilayah hukum Polsek Birubiru
Kapolsek Biru-Biru, IPTU Indra Kristian Tamba SE MH, dalam dialog radio di RRI Medan, menyebutkan terus menggencarkan upaya menekan aksi kriminalitas jalanan dan kenakalan remaja di wilayah hukumnya.
Ia menegaskan, mulai dari tindak pidana 3C (curat, curas dan curanmor), balap liar, geng motor hingga tawuran, menjadi fokus penanganan Aparat Kepolisian. .
” Keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu Polsek Birubiru terus hadir di tengah masyarakat melalui langkah preventif maupun penindakan tegas namun humanis,” ujarnya.
Polsek Biru-Biru berkomitmen menjaga kondusifitas wilayah dan memberikan rasa aman kepada masyarakat, khususnya dalam menekan tindak pidana 3C, balap liar, geng motor serta tawuran yang sangat meresahkan.
Ia mengungkapkan, pada 22 April 2026 sekitar pukul 13.00 WIB, personel Polsek Biru-Biru mengamankan 49 pelajar yang melakukan konvoi menggunakan 20 unit sepeda motor. Para pelajar tersebut berasal dari wilayah Birubiru, Patumbak, Delitua hingga Kota Medan.
Menurutnya, langkah itu dilakukan untuk mencegah potensi tawuran maupun gangguan kamtibmas lainnya.
Pada 26 April 2026 sekitar pukul 07.30 WIB, Polsek Biru-Biru kembali mengamankan tujuh pelajar asal Biru-Biru.
Dari jumlah tersebut, empat pelajar diproses lebih lanjut karena memiliki senjata tajam.
Selain melakukan penindakan, Polsek Biru-Biru juga rutin melaksanakan patroli malam di titik-titik rawan kejahatan dan balap liar guna mempersempit ruang gerak pelaku kriminal.
IPTU Indra juga menjelaskan sejumlah faktor penyebab maraknya geng motor di kalangan remaja.
Mulai dari kurangnya pengawasan orang tua, pengaruh lingkungan pergaulan negatif, penyalahgunaan media sosial, hingga rendahnya kesadaran hukum.
“Selain itu ada faktor ingin diakui, mencari identitas diri, dan solidaritas kelompok yang salah arah sehingga akhirnya terlibat aksi kekerasan maupun tindak kriminal, “katanya.
Menurutnya, keberadaan geng motor membawa dampak serius bagi masyarakat, mulai dari menimbulkan rasa takut, memicu aksi kekerasan dan perusakan, hingga menyebabkan kecelakaan akibat balap liar.
Karena itu, IPTU Indra menekankan bahwa penanganan geng motor tidak bisa hanya dilakukan kepolisian, melainkan membutuhkan peran seluruh elemen masyarakat.
Ia mengajak para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak, sekolah memperkuat pembinaan karakter, serta masyarakat aktif melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar.
” Pihak kepolisian akan terus meningkatkan patroli rutin, razia, penyuluhan ke sekolah-sekolah serta memperkuat sinergi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemerintah setempat,” ungkapnya.
Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya para orang tua dan generasi muda, agar bersama-sama menjaga keamanan lingkungan dan tidak mudah terpengaruh ajakan negatif yang dapat merusak masa depan.
(Hisar LG).
