Irigasi Lahan Persawahan Longsor di Desa Huta Lombang, Sawah Warga Terancam Gagal Panen Kurang Lebih 500 Hektar

 

Madina, Transnusantara–
Bencana banjir dan tanah longsor melanda kawasan lereng perbukitan di Desa Huta Lombang, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal tanggul irigasi persawahan longsor akibat Curah hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak Minggu kemaren 8 Agustus 2026

Sampai berita ini turunkan belum ada perhatian Pemda setempat baik dinas ketahan pangan maupun dinas Pertanian baik Badan Penagulang Bencana Alam Daerah Kabupaten Mandailing Natal ungkap Herman Nasution warga Desa Huta Lombang kepada awak media
menurutnya hampir sekitar 500 hektar lahan Persawahan terancam gagal panen di hilir sungai Aek Roburan ini akibat jebolnya tanggul irigasi ini

Akibatnya pasokan air yang mengaliri persawahan di dua kecamatan atara lain kecamatan puncak Sorik Marapi dan kecamatan Lembah Sorik Marapi warga terhenti menyemai benih Padi di hilir irigasi yang sebelumnya mengharapkan air dari irigasi yang di maksud

Sedikitnya lima desa yang menggantungkan kebutuhan air persawahan yang mengalirkan air persawahan dari jaringan irigasi ini terancam mengalami kekeringan ekstrem dan di duga. Nantinya mengakibatkan gagal panen

Desa-desa terdampak akan mengalami terancam gagal panen di antaranya meliputi kawasan persawahan di sekitar desa Huta Lombang, Desa Maga Dolok Desa maga Pasar Desa Maga Lombang dan pangkat

serta beberapa desa tetangga di hilir Puncak Sorik Marapi saat ini baru siap menyambur menyemai benih padi dan rata-rata sedang memasuki masa menanam

Jika dalam satu hingga dua minggu ke depan saluran irigasi ini tidak segera dibersihkan dan diperbaiki, padi kami dipastikan akan mati kekeringan dan kami terancam gagal panen total,” ujar Herman Nasution salah seorang petani setempat dengan nada khawatir.Hingga saat ini, para petani setempat berupaya melakukan pembersihan manual dengan gotong royong peralatan seadanya. Namun, besarnya volume material batu dan parahnya kerusakan yang menutup aliran air membuat warga kewalahan dan membutuhkan bantuan alat berat.

Masyarakat sangat berharap pihak pemerintah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina bersama Dinas Pertanian dan Dinas PUPR Kabupaten Mandailing Natal segera turun ke lokasi untuk melakukan normalisasi darurat agar mata pencaharian utama ratusan kepala keluarga di lima desa tersebut dapat terselamatkan.

( Ahmad Suleman )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *