• Ming. Okt 2nd, 2022

KEBIJAKAN PENGGUNAAN WHATSAPP DALAM MEMAKSIMALKAN KAMPANYE PILKADA 2020 KOTA MEDAN

Share

Oleh : Hukeria Harianja, SH, M.Hum

 

PENDAHULUAN
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 yang dilaksanakan Rabu (9/12/2020), merupakan Pilkada yang digelar serentak di 270 kabupaten atau kota termasuk Kota Medan. Pikada 2020 berbeda dengan Pilkada periode sebelumnya, karena tahun Pandemi corona 19 tidak dibenarkan berkampanye dengan jumlah yang banyak, namun dibatasi dengan ketentuan protokoler yang berlaku. Oleh karena itu Pilkada 2020 banyak menggunakan sistem informasi penggunaan android terutama dalam kampanye untuk meraih simpati masyarakat sekaligus memenangkan para calon. Pilkada tanpa Aplikasi Pemenangan seperti Politik tanpa Ideologi. Jadi, meninggalkan cara lama dan manual untuk beralih ke cara baru dan modern menggunakan teknologi sistem informasi manajemen pilkada.
Pilkada Kota Medan terdiri dari dua calon yaitu Paslon Nomor urut 2 Boby-Aulia yang didukung oleh Partai Golkar, PDIP, Gerindra, PPP, NasDem, PSI, PAN, dan Hanura yang dikenal dengan Kolaborasi Medan Berkah. Sedangkan Paslon Akhyar diusung oleh artai Demokrat dan PKS dengan nomor urut 1 yang dikenal dengan pasangan Aman.
Dalam strategi pemenangan, banyak hal-hal yang penting untuk dilakukan dalam meraih dukungan para pemilih. Pembentukan basis data dan berbagai informasi dalam sinergi langkah strategis pemenangan merupakan salah satu bagian terpenting agar dapat mengevaluasi gerakan secara terstruktur dan efektif Metode kampanye konvensional seperti pengerahan massa untuk rapat umum dibatasi, hal ini mengharuskan keramaian massa dengan berbagai atribut, terasa sepi makna. Keramaian ide, gagasan, dan visi-misi terasa mulai berpindah ke ruang-ruang maya.
Kampanye berbasis android dianggap sebagai suatu alternatif dan strategi yang efektif dalam memaksimalkan kampanye untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan calon termasuk profil calon, visi misi, program dan sebagainya. Adapun kampanye dengan menggunakan sistem informasi berbasis android dilakukan dengan memanfaatkan website, twitter, SMS gate, Whatsapp. Whatsapp sebagai salah satu aplikasi andoid yang dapat dimanfaatkan untuk memaksimalkan kampanye Pilkada Walikota Medan 2020 melalui group WA yang dibentuk oleh para tim dari berbagai lapisan masyarakat (relawan) maupun partai pendukung.

PERMASALAHAN
Platform favorit kampanye kedua nerdasarkan data KPU RI adalah dari perusahaan Facebook Inc, kemudian 1.113 akun Instagram yang didaftarkan paslon, kira-kira mencapai 18 persen dari total akun yang didaftarkan. KPU juga mencatat sejumlah grup publik, terdiri dari 236 Facebook Fanpage (4 persen), 120 situs resmi (2 persen), 42 WhatsApp Group (0,7 persen), 2 blogsppot (0,05 persen), 9 e-mail resmi (0,1 persen), dan 24 grup publik lainnya (0,4 persen). KPU mengatakan hingga bulan Oktober 2020, total ada 6.375 akun media sosial yang didaftarkan paslon ke KPU.
Bagaimanakah kondisi kampanye Pilkada Walikota di Kota Medan dalam mengoptimalkan penggunaan WhatsApp masa kampanye menjadi dasar pemikiran yang cukup menarik dibahas. Permasalahan dalam kampanye Pilkada Walikota Medan 2020 diketahui adanya keterbatasan kampanye di lapangan atau berkumpul ram-rame karena peraturan pemerintah dalam menyikapi dan menghadapi covid 19. Oleh karena itu permasalahan dalam pembahasan ini sejauhmana Kebijakan Penggunaan Whatsapp Dalam Memaksimalkan Kampanye Pilkada 2020 Kota Medan.

PEMBAHASAN
Whatsapp merupakan suatu aplikasi pesan untuk ponsel cerdas (Kemendikbud, 2019). Whatsapp Messenger merupakan aplikasi pesan lintas platform yang yang memungkinkan untuk bertukar pesan tanpa pulsa, karena Whatsapp Messenger menggunakan data paket internet. (Erlang, 2020). Pengertian lain dikatakan bahwa Whatsapp Messenger adalah sebuah aplikasi perpesanan instan dan lintas platform pada smartphone yang memungkinkan pengguna mengirim dan menerima pesan seperti SMA tanpa menggunakan pula melainkan koneksi internet. (Jhoni.2019).
Whatsapp berperan sebagai aplikasi messenger online yang saat ini banyak digunakan untuk berbagai hal seperti chat personal, komunitas, seminar online, termasuk belajar online dan sebagainya. Dengan adanya media sosial dan aplikasi Whatsapp manusia dapat berkomunikasi di berbagai belahan dunia, dapat terhubung satu sama lain. Whatsapp diliris pada Januari 2009 namun secara resmi pada tahun 2014 menjadi milik facebook setelah melalui proes akuisisi selama 8 bulan. Melalui Whatsapp seseornag dapat mengirimkan teks, foto, audio, file dan gambar kepada pengguna lainnya, menelpon, video call serta membuat story. (Jhoni.2019).
Adapun fungsi whatsapp menurut (Jhoni.2019) dapat dijadikan sebagai :
Personal atau Group chat
Media pendidikan
Media bisnis
Berbagai informasi dan berita
Vidio dan voice call
Membuat status/story
Media komunitas.
Media sosial adalah sarana untuk komunikasi di mana setiap individu saling memengaruhi. Setiap orang memiliki pengaruh ke sekelilingnya. Tidak instan. Selain itu, pengguna media sosial yang well inform dan terdidik ini tidak mudah dibohongi, tapi mudah terpengaruh dan simpati pada hal-hal yang membuat mereka tersentuh. Ketenaran dan kekuatan politik yang sekarang menempel pada Jokowi, misalnya, disumbang besar oleh perbincangan di media sosial yang mengarah pada kekaguman setiap orang pada keotentikan dan keseriusan paslon untuk memimpin rakyat. Di dalam ruang media sosial hanya informasi yang sesuai fakta yang berharga. Untuk mencapai keyakinan bahwa informasi itu sesuai fakta, sering kali muncul perdebatan. Dalam berbagai hal yang menarik perhatian publik terjadi tesis yang dilawan oleh argumen antitesis. Keajaiban sering kali muncul di media sosial berupa tercapainya sintesis. Tidak perlu ada seseorang yang menyimpulkan, tapi dari perdebatan tersebut sering kali muncul “kesepakatan sunyi” di antara pihak-pihak yang berdebat beserta para “pendengarnya”.(Mardiasomo, 2015)
Salah satu media sosial yang digunakan oleh para kandidat peserta Pilkada serentak diseluruh Indonesia termasuk juga di Kota Medan adalah Whats App. Whatsapp adalah Aplikasi Plat Form ringkas OS pertama yang kemunculannya sangat tepat sekali dengan memboomingnya SmartPhone di seluruh dunia. Aplikasi Whatsappini merupakan Aplikasi terlaris di dunia dan sering di Download oleh para pengguna SmartPhone. Kemajuan teknologi yang pesat di bidang komunikasi telah melahirkan banyak inovasi dan gagasan baru, ide yang bertujuan untuk memudahkkan proses komunikasi manusia menjadi lebih efektif. Dalam kemajuan teknolog informasi juga dapat berhubungan dengan orang lain tanpa ada batasan jarak dan waktu. Salah satu inovasi yang mempermudah proses komunikasi adalah telepon selular atau yang biasa disingkat dengan kata ponsel.
Whatsap messenger adalah cross-platform mobile messaging app yang memungkinkan untuk bertukar pesan tanpa harus membayar untuk SMS. Whatsapp messenger tersedia untuk iPhone, BlackBerry, Android, Windows Phone dan Nokia. Karena Whatsapp Messenger menggunakan internet data plan yang sama yang digunakan untuk email dan browsing web, tidak ada biaya untuk pesan dan tetap berhubungan dengan orang lain. Selain itu, pengguna Whatsapp yang well inform (Transfrmasi dengan baik) dan terdidik ini tidak mudah dibohongi, tapi mudah terpengaruh dan simpati pada hal-hal yang membuat orang lain tersentuh. Ketenaran dan kekuatan politik yang sekarang menempel pada kedua calon, misalnya, disumbang besar oleh perbincangan di media sosial termasuk Whatsapp yang mengarah pada kekaguman setiap orang pada keotentikan dan keseriusan Boby-Aulia untuk mengurus rakyat, demikian juga Akhyar-Salam sebagai Petahana yang dianggap sudah berpengalaman sebagai Walikota.

Proses seperti ini berjalan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Karena sifatnya yang memiliki rentang waktu panjang, media sosial tidak memiliki pengaruh signifikan untuk kampanye yang sifatnya mobilisasi. Kerja-kerja di media sosial bergerak perlahan dengan membincangkan visi, misi, ide, ideologi. Permasalahan yang muncul bagi pengguna Whatsapp khususnya sebagai ruang politik tidak dapat menggerakkan massa secara besar hanya terbatas pada anggota grup yang ada di Whatsapp. Masalah penggunaan Whatsapp juga kurang efektif karena bukan orang yang bisa digiring, tapi bergerak dengan kemauan dan kesadaran sendiri. Media whatsapphanya berpengaruh signifikan bagi politikus yang bekerja sepanjang waktu. Bukan pekerjaan instan lima tahun sekali. Mereka yang intens menyebarkan ide-ide dan berdiskusi dalam bidang tertentu secara mendalam sepanjang waktu akan mendapat hasilnya saat pemilu.

Dalam penggunaan whatsapp hanya politisi yang memiliki simpati dan empati terhadap permasalahan rakyat yang akan menuai simpati dan empati publik. Sifat kampanye di Whatsapp bisa merupakan kebalikan dari kampanye di dunia nyata. Jika di dunia nyata kampanye begitu berisik, keras suaranya tapi tanpa bukti nyata, di media sosial adalah antitesis dari berisik dan bising tersebut, yaitu bermakna. Setiap suara punya arti, memiliki pembuktiannya sendiri-sendiri. Politik di Whatsapp bisa merupakan politik sejati, yaitu politik yang benar-benar berisi ide-ide dan aksi nyata untuk kebaikan umum. Inilah politik yang memiliki daya dobrak. Berbagai isu sosial yang menjadi beban masyarakat sering kali mendapatkan solusinya di Whatsapp.
Media Whatsapp sebagai Ruang Politik dalam menghadapi Pilkada Walikota Medan 2020, sebagai salah satu produk teknologi komunikasi cukup banyak dipergunakan dalam kampanye pemilu, Konsep McLuhan yang menyatakan bahwa teknologi adalah media menjadi konsep dasar yang menjadi landasan dalam analisis suatu kasus politik. Dari konsep McLuhan ini turun ke dalam beberapa teori yang memiliki kaitan dan juga dapat menjadi analisis dalam berbagai kasus yang ada dalam bidang politik. Teknologi komunikasi yang selalu berkembang menyebabkan pengaruh pada bidang politik melalui kegiatan kampanye yang kini dikembangakan melalui media baru dan dapat terlihat adanya technological deternism (Determinisme teknologi) yang ada di tengah masyarakat sebab banyaknya orang yang begitu ketergantungan dengan fungsi teknologi sehingga kehidupan sangat dikuasai oleh teknologi. (Darmadjid, 2014) .

Menurut Darmin (2016), komunikasi politik–transmisi informasi yang relevan secara politis dari satu bagian system politik kepada system politik yang lain, dan antara system social dengan system politik merupakan unsur dinamis suatu system politik, dan proses sosialisasi, partisipasi, serta rekrutmen politik bergantung pada komunikasi.
Komunikasi politik adalah pertukaran informasi antara elite politik bangsa media dengan warga Negara. Istilah kunci dalam komunikasi politik: symbol-simbol politik dan bahasa, elite pers, public, proses politik, efek potensial dan actual, regulasi konflik dan fungsi system politik (Sharon E. Jarvis dan Soo Hye Han, dalam Sumartias,2009). Komunikasi yang sehat terjadi dalam alam demokrasi, ketika pemerintahan dibentuk dan diberi wewenang melalui kedaulatan rakyat melalui suasana kebebasan dalam menyalurkan aspirasi, pendapat serta menjunjung tinggi hak-hak asasi rakyatnya. Cara yang paling nyaman untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini: siapa?, berkata apa?, melalui saluran apa?, kepada siapa?, dengan efek apa?. Komunikasi membutuhkan respon dari orang lain. Oleh karena itu, harus ada keadaan berbagai makna (atau korespondensi) agar komunikasi dapat terjadi.
Dari beberapa grup di Whats App, faktor menangnya kandidat dilihat dari media sosial contohnya admin yang terbanyak yaitu dari tim suksesi, karena rata-rata dari beberapa grup tim sukses dari kandidat tersebut yang terbanyak, adapun faktor-faktor lain yang membuktikan bahwa menangnya salah satu calon, tidak hanya dilihat dari media sosial tapi juga dilihat dari popularitasnya. Selain dari itu salah satu kandidat juga memiliki kekayaan yang lebih dibandingkan kandidat lain, faktor terbesarnya juga datang dari keluarga seperti diketahui bahwa semua calon yang mengikuti Pilkada serentak memiliki peluang yang sama untuk menjabat sebagai Walikota dan Wakil Walikota Medan periode 2020-2024.
Seperti Whatsapp dengan hampir jutaan masyarakat Kota Medan telah bergabung menjadi satu dalam berbagai banyaknya jenis dari sosial media set. Sosial media telah sangat banyak mempengaruhi kehidupan manusia, termasuk di bidang politik yang juga terpengaruh dengan keberadaan sosial media. Seperti halnya grup Whatsapp pilkada Kota Medan.
Dalam kampanya politik, kandidat bisa saling berhubungan langsung dengan khalayak melalui tulisan di wall atau forum diskusi lainnya yang bisa di koment oleh tiap orang. Selain menyampaikan visi misi kandidat dalam kampanye kepada orang lain, Whatsapp juga bisa menjadi sarana menjaring aspirasi masyarakat karena bisa disampaikan secara langsung. Whatsapp juga bisa dimanfaatkan sebagai pengenalan diri dan membangun tali persahabatan dengan siapa saja (khususnya antara kandidat dan khalayak).

Kampanye Paslon Wali Kota Medan memiliki banyak pendukung baik dari partai maupun dari relawan di berbagai daerah Kecamatan, untuk Paslon Nomor urut 1 Akhyar-Salman memiliki 285 Tim Relawan yang terdiri dari tim berbasis Partai pendukung yaitu PKS dan Demokrat dengan Rumah Pemenangan AMAN (Akhyar-Salman), dan berbagai nama relawan lainnya, (Ibrahim, 2020) selanjutnya + 300 tim dan relawan Boby-Aulia yang bari dari partai pendukung maupun relawan (Arnold, 2020) dengan boby centre atau rumah pemenangan (BONAR) atau Boby Nasution –Aulia Rahman.
Salah satu kebijakan yang dilakukan oleh masing-masing Paslon Walikota Medan dalam penggunaan Whatsapp untuk memaksimalkan kampanye adalah membentuk group WA melalui tim dan relawan yang terbentuk, dan masing-masing tim dan dan relawan memiliki group WA lainnya. Adapun kebijakan yang dilakukan dalam memaksimalkan kampenya oleh kedua calon tersebut adalah memberikan informasi melalui media centre dari masing-masing Paslon.
Informasi tersebut secara formal adalah berupa profil calon, visi misi calon, program calon, berita-berita tentang kegiatan calon pada masa kampanye, sedangkan menjelang hari pencoblosan setiap group WA mengingatkan kepada masing-masing group WA untuk tidak lupa memberikan hak suara pada tanggal pencoplosan yaitu Hari Rabu 9 Desember 2020 di bilik suara. Selain kampanye secara formal dengan berbagai informasi tersebut masing-masing tim dan relawan juga saling memberikan informasi bahkan membuat komentar dan video serta gambar tentang berita-berita masing-masing calon bahkan ada group WA yang melakukan black campion (Kampanye Hitam) untuk menjatuhkan reputasi calon tertentu sebagaimana termuat dalam Tagar id, (Tigor Munte, 2020).
Berdasarkan uraian di atas maka dapat diketahui bahwa kedua paslon Walikota Medan melakukan kebijakan dengan menggunakan media Whatsapp sebagai salah satu akun media sosial untuk memaksimalkan kampanye pada Pilkada Walikota Medan 2020. Meskipun calon menjadikan Whatsapp sebagai media dalam memaksimalkan kampanye Pilkada Kota Medan, namun dianggap kurang efektif karena penggunaan media ini hanya dapat dijangkau oleh sekelompok orang yang masuk dalam group WA.

KESIMPULAN
Terdapat beberapa kesimpulan yang dapat diuraikan yaitu sebagai berikut:
Whatsapp yang digunakan oleh setiap pasangan calon dirasakan sangat efektif untuk membangun dukungan. Issu-issu yang terjadi saat ini, pasangan calon menjadikan whatsapp dalam memaksimalkan kampanye karena dianggap bahwa media social ini memiliki biaya yang cukup murah dan dapat djangkau oleh setiap masyarakat sebagai ruang politik untuk mendukung salah satu pasangan calon
Pemanfaatan whatsapp memiliki banyak kelemahan-kelemahan karena media ini tidak dapat memobilisasi massa secara banyak hanya terbatas pada anggota grup yang ada di dalam satu komunitas yang membuat grup di whatsapp.
Pola komunikasi yang terjadi dalam media media Whatsapp adalah komunikasi dua arah/ interaktif dan secara realtime. Dalam kampanya politik, kandidat bisa saling berhubungan langsung dengan khalayak melalui tulisan di wall atau forum diskusi lainnya yang bisa di koment oleh tiap orang. Selain menyampaikan visi misi kandidat dalam kampanye kepada orang lain, Whatsapp juga bisa menjadi sarana menjaring aspirasi masyarakat karena bisa disampaikan secara langsung. Whatsapp juga bisa dimanfaatkan sebagai pengenalan diri dan membangun tali persahabatan dengan siapa saja (khususnya antara kandidat dan khalayak).

 

 

DAFTAR PUSTAKA
Arnold H.Sianturi, Relawan Boby Aulia Tumbuh Pesat di Medan, Berita Satu, 10-10/220).

Budiman, 2016. Deskripsi tentang Pengaruh Media dalam Pilkda Kabupaten Banyuwangi,

Darmadjid, 2014. Wajah Media Sosial dalam Politik Indonesia, Jakarta, Panembahan

Darmin, 2016. Pemanfaatan Media Massa sebagai Wujud tercapainya Politik Indonesia, Jakarta, Rineka Cipta.

Erlang. 2020, Whatsaap Sebagai Media Komunikasi, Jakarta : Intermedia

Ernawan, 2017. Peran Media sebagai Sarana Penyampaian Aspirasi Masyarakat, Jakarta, Makalah Universitas Fajar.

Ibrahim Tarigan, Jumlah Kelompok Sukarelawan Pendukung Akhyar-Salman, Medan, JPNN Com.

Jhoni, 2019, Pemanfaatan Whatsaap Sebagai Media Komunikasi, Jakarta : Kanisius

Jashali, 2011. Korelasi Media Massa terhadap Politik di Indonesia, Jakarta, Panembahan.

Kemendikbud, 2019, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Kemendikbud

Komaruddin, 2003, Komunikasi Politik sebagai Sarana Penyampaian Aspirasi Masyarakat, Jakarta, Rosdakarya.

Kurniadi, 2004. Media Massa Pemersatu Bangsa (Konsep Komunikas dan Praktek), Bandung, Mandar Maju.

Mardiasmo, 2015. Peran Media Sosial dalam Konstelasi Pilkada Tahun 2014, Jurnal Vol. 12. Edisi Desember 2016.

Ruchyat, 2010. Politik dan Media Massa, Jakarta, Rineka Cipta

Sakarman. 2011. Komunikasi dan Politik dalam Mendukung Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa, Jakarta

Tigor Munte, 2020,Group WA Tim Media Paslon di Medan Sebar Hoaks, Tagar, Id, Medan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.